senyum

pagi itu, hari kamis di tengah Februari yang basah. mata masih memerah setelah begadang dengan kawan sekolah menengah dulu. setengah sadar kumasuki pintu kamar hotel di tengah bilangan kota Malang. tanggungan report yang harus sampai ke Surabaya sebelum jam masuk kantor mencegahku untuk memejamkan mata.

report sudah selesai, tapi hati masih saja bergejolak. ada rindu diantara desah nafas yang masih berusaha beradaptasi dengan dingin udara Malang. rindu kepada bait senyum yang beberapa malam lalu masih sempat kutemui.

tiba-tiba, jari tak mau berhenti bergerak, rangkaian kata terangkai dalam kotak pesan. beberapa menit kemudian, setelah pertengkaran antara hati dan logika, pesan yang nyaris terdiri dari 1.000 karakter itu berbalas. mengabarkan tentang senyum yang saat itu aku rindukan baru saja tersungging disana, di Surabaya, kota yang mempertemukan kami.

dan akupun juga tersenyum. membayangkan senyum manis itu baru saja tersungging dengan indahnya.

selamat pagi

pagi kembali hadir,
memaksa gelap menyingkir ke tepi cakrawala.

tak ada embun
tak jua kabut.
meski teramat biasa,
selalu ada harap di mula hari.

selamat pagi, Perempuanku.

selamat pagi.

… … … … …

sinar matahari mulai menguasai dengan terangnya,
mengusir kelam yang semalam mendekapku dalam lelap,
kaupun tak mau kalah dengannya,
menghadirkan kata yang membuatku membuka mata.

dan akhirnya,
selamat pagi kukirim juga.

selamat malam

lama tak kurangkaikan salam malam kepadamu.
bait-bait tentang kelam.
frasa-frasa pemuja bintang.

lama tak kukirimkan selimut kata kepangkuanmu.
rima yang terangkai di akhir.
makna yg merekahkan senyummu.

selamat malam, Kekasihku.
ijinkan kelam memelukmu.
menghadirkan hangat rembulan dalam limpahan kerlip bintang.