sajak untuk penyair hati

kau dan aku seperti kehilangan kata
terkungkung diam dalam dekapan sunyi
entah berapa malam telah terlewati
entah pula berapa pagi yang telah berganti
sejak bait jinggamu yang terakhir,
tak lagi kutemukan rangkaian katamu yang suci

apa yang kau pinta duhai penyair hati
sajak kata yang selama ini kita bagi
atau sajak kehidupan yang akan kita rangkai berdua,
yang bait dan rimanya mampu menyatukan rasa

dan pagi ini
pagi kesekian kali lagi,
sejak sajak jinggamu yang terakhir

*cukup dev! ndak usah melankolis sok romantis. enough! kembali fokus sana, fokus ke hal lain yang jelas nyata dan lebih essenstial! enough and stay focus! fight!

rasa dalam kata [3]

setelah perkenalan singkat yang dipromotori managerku, maka, resmi pula hari pertamaku sebagai orang kantoran.

kubikal yang kuperolaeh tidak terlalu mengecewakan, bahkan bisa dibilang cukup menyenangkan. berada di koridor barat, jika kubalikkan badan dan menembus kaca jendela, tampak halaman belakang SMA 3 kota R, halaman yang disulap menjadi lapangan basket. kubikal transparan dengan sekat yang bahkan hanya sanggup melindungi setengah LCD laptopku saat dibuka.

tak banyak yang kuingat di hari pertamaku, hanya Reni, sekretaris departemen yang kubikalnya tepat berada di samping kananku yang sempat mengajakku mengobrol, itupun tidak banyak, obrolan pertama mengenai amplop titipan HRD yang berisi detail account email, intranet dan ID cardku. Roy, yang kubikalnya tepat berhadapan denganku, bahkan baru bisa kueja namanya dengan benar saat kami bertemu dalam rapat mingguan di hari Senin berikutnya, itu berarti 4 hari setelah hari pertamaku.

sebelah kiriku ada kubikal kosong, meja kerja yang tak begitu luas itu penuh dengan tumpukan dokumen. kertas-kertas yang nantinya menjadi bagian keseharianku. di depan Reni, sebelah kiri Roy, kubikal kosong tanpa meja, ada mesin fotokopi disana, serta laci-laci rendah yang berisi ATK. sebelah kanan Roy adalah kubikal milik Hadi, di hari pertamaku dia tidak kelihatan, sedang di kota S, di tempat salah satu client kami.

hujan

matari tampak lelah
sudah beberapa bulan ini dia terus-terusan merenggang panas
sendiri, tanpa canda tawa awan dan hujan
menjadi satu-satunya penguasa langit siang

hujan baru saja mengenakan mantelnya
titik-titik air sudah pula disiapkannya
tak lupa disapanya sang awan dari jauh
”tolong bantu aku, kau halangi sebentar matari”

awan baru saja sampai dari perjalanan panjangnya diatas pasifik
ada sedikit rindu yang terpendam
kepada hujan yang lama tak ditemani
kepada matari yang lama tak digoda

matari tersenyum
mendengar sapa hujan kepada awan
dia tahu, sebentar lagi dia bisa sedikit beristirahat
memberi kesempatan hujan dan awan

masa, pelan-pelan berubah

hujan marah
awan tak juga datang seperti pintanya
matanya membelalak, menatap sadis kepada angin yang tersenyum bahagia
padahal, mantel dan titik-titik air sudah terlalu menganggu pundaknya

angin begitu ceria
rindunya kepada awan terpenuhi
puas hatinya menggoda awan
bercengkerama kesana kemari

“pa, kok tidak jadi hujan? padahal tadi awannya sudah gelap, petir juga sudah terdengar nyaring?”

“sebentar nak, mungkin angin sedang melepas rindunya dengan sang awan atau mungkin matari masih merasa sanggup merenggang panas, bersabarlah, hujan pasti datang, pasti, dia sudah berjanji padamu kemarin.”