hujan

January 27th, 2009

matari tampak lelah
sudah beberapa bulan ini dia terus-terusan merenggang panas
sendiri, tanpa canda tawa awan dan hujan
menjadi satu-satunya penguasa langit siang

hujan baru saja mengenakan mantelnya
titik-titik air sudah pula disiapkannya
tak lupa disapanya sang awan dari jauh
”tolong bantu aku, kau halangi sebentar matari”

awan baru saja sampai dari perjalanan panjangnya diatas pasifik
ada sedikit rindu yang terpendam
kepada hujan yang lama tak ditemani
kepada matari yang lama tak digoda

matari tersenyum
mendengar sapa hujan kepada awan
dia tahu, sebentar lagi dia bisa sedikit beristirahat
memberi kesempatan hujan dan awan

masa, pelan-pelan berubah

hujan marah
awan tak juga datang seperti pintanya
matanya membelalak, menatap sadis kepada angin yang tersenyum bahagia
padahal, mantel dan titik-titik air sudah terlalu menganggu pundaknya

angin begitu ceria
rindunya kepada awan terpenuhi
puas hatinya menggoda awan
bercengkerama kesana kemari

“pa, kok tidak jadi hujan? padahal tadi awannya sudah gelap, petir juga sudah terdengar nyaring?”

“sebentar nak, mungkin angin sedang melepas rindunya dengan sang awan atau mungkin matari masih merasa sanggup merenggang panas, bersabarlah, hujan pasti datang, pasti, dia sudah berjanji padamu kemarin.”

Leave a Reply