tak ada kata lagi

“itu cuman cintanya anak kecil, cinta monyet”, begitu kau bilang kepadaku tentang tanggapan mamamu akan cerita-ceritamu, dan kaupun lantas tertawa renyah seperti menggodaku. sedang aku, hanya tersenyum kecut diujung telepon ini.

“kau tahu?”

“apa?”

“banyak hal yang sebenarnya ingin kubincangkan denganmu, tapi semuanya selalu hilang saat kau meneleponku”, begitu perlahan kau mengucap ini.

“coba kau tulis, akan kubaca jika kau mengijinkan.”

“ya, aku sudah menulisnya, selalu. tapi soal ijin itu? eh hhmmmmm, nanti dulu deh”, dan tawamu meledak lagi.

“dasar!!! kapan kau pulang?”

“belum tahu, banyak hal yang belum selesai. kangen banget ma rumah padahal”, ada desir kecewa yang kutangkap. ya, aku tahu, kau begitu sibuk disana.

dan tiba-tiba semuanya sunyi.

tak ada kata lagi.

maaf

jalan ini
jalan yang pernah kulewati
waktu itu
saat matahari mulai malu menampakan wajanya
ketika titik demi titk air mulai jatuh dari langit
dan kau tersenyum malu dibalik tirai penutup jendela kamarmu

jalan ini
jalan yang selalu menemaniku
setiap saat
ketika hati ini merindu sejuknya embun
yang selalu hadir saat kerling manismu menyapa

jalan ini
jalan yang melukaiku
merobek setiap baris kenangan indahku
saat maaf itu harus kuucap kepadamu

maaf