rasa dalam kata [2]
January 18th, 2009—
“Bu, aku berangkat sekarang, aku tunggu di tempat biasa”, bunyi pesan-singkatku ke Ibu yang sedang latihan senam di sanggar senam dekat taman kota, kulirik jam meja di samping telepon rumah, 16.45, masih cukup waktu untuk mencapai tempatku menunggu Ibu. kuraih ranselku, kumasukkan “Ronggeng Dukuh Paruk”, novel lama yang harus kubuat esainya sebagai tugas dari Bu Murni, dosen favoritku, meskipun sudah pernah menyelesaikannya, aku merasa perlu membaca ulang untuk menyegarkan.
halte tampak sepi, cuma ada laki-laki muda yang tampaknya baru saja pulang dari tempat kerjanya, wajahnya tampak kusut, mungkin ada pekerjaan yang tidak selesai seperti yang diharapkannya. bus yang kutunggu datang, kusebar pandanganku ke seluruh penjuru bus, ada tempat kosong disamping gadis SMA yang masih berseragam abu-abu putih, tampak asyik dengan handphonenya.
“permisi”, ucapku basa basi sekaligus memintanya memindahkan ranselnya, dia mendongak kemudian tersenyum manis, menganguk, menggeser ranselnya yang menutupi bangku kosong yang akan kududuki.
“baru pulang ya?”
“eh, iya, ada ekskul tadi”, jawabnya sedikit tergagap.
“saya dulu juga SMA 3 lho”, ucapku spontan begitu membaca badge di lengan kirinya, badge yang dulu juga sempat kupakai, 3 tahun yang lalu.
dia menatapku, seperti menaksir usiaku “lulus tahun berapa mbak?”
“2005, 3 tahun yang lalu.”
“kenal dengan Pak Kris dong?”, tanyanya antusias, dan saat itu juga bus mulai berjalan lagi, setelah berhenti sekitar 3 menit, ketentuan untuk halte kecil seperti ini.
“guru Bahasa kelas 2 itu?”
“sekarang mengajar kelas 1 mbak, dan juga mengasuh ekskul sastra, ini aku baru pulang dari ekskulnya”, senyum manis kembali tersungging.
“aku kira masih ngajar kelas 2”, obrolan kami terhenti, ada telpon yang harus diangkatnya.
“eh mbak, permisi, aku harus turun halte depan. kapan-kapan ngobrol lagi, kalau ketemu”, sepertinya dia sudah ditunggu temannya yang baru saja menelponnya.
“hati-hati ya”, sambil menggeser kakiku untuk memberinya jalan keluar.
bus kembali berjalan, kukeluarkan novelku, kubaca kembali saat Srintil menunggu lelaki pertama yang akan membelinya.
bus berhenti di halte taman kota, tepat disisi utara taman. pohon-pohon tampak basah, baru saja hujan sepertinya disini. kuhirup udara sore yang sedikit basah.
—
January 19th, 2009 at 8:39 am
baguuus
lanjuut cak