<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kata kata &#187; prosa liris</title>
	<atom:link href="http://kata.devie.or.id/category/prosa-liris/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kata.devie.or.id</link>
	<description>tentang rasa dan asa yang terpaut</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 14:26:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>senyum</title>
		<link>http://kata.devie.or.id/2009/10/senyum/</link>
		<comments>http://kata.devie.or.id/2009/10/senyum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 14:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devie</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa liris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kata.devie.or.id/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[

pagi itu, hari kamis di tengah Februari yang basah. mata masih memerah setelah begadang dengan kawan sekolah menengah dulu. setengah sadar kumasuki pintu kamar hotel di tengah bilangan kota Malang. tanggungan report yang harus sampai ke Surabaya sebelum jam masuk kantor mencegahku untuk memejamkan mata.
report sudah selesai, tapi hati masih saja bergejolak. ada rindu diantara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>pagi itu, hari kamis di tengah Februari yang basah. mata masih memerah setelah begadang dengan kawan sekolah menengah dulu. setengah sadar kumasuki pintu kamar hotel di tengah bilangan kota Malang. tanggungan <em>report</em> yang harus sampai ke Surabaya sebelum jam masuk kantor mencegahku untuk memejamkan mata.</p>
<p><em>report</em> sudah selesai, tapi hati masih saja bergejolak. ada rindu diantara desah nafas yang masih berusaha beradaptasi dengan dingin udara Malang. rindu kepada bait senyum yang beberapa malam lalu masih sempat kutemui.</p>
<p>tiba-tiba, jari tak mau berhenti bergerak, rangkaian kata terangkai dalam kotak pesan. beberapa menit kemudian, setelah pertengkaran antara hati dan logika, pesan yang nyaris terdiri dari 1.000 karakter itu berbalas. mengabarkan tentang senyum yang saat itu aku rindukan baru saja tersungging disana, di Surabaya, kota yang mempertemukan kami.</p>
<p>dan akupun juga tersenyum. membayangkan senyum manis itu baru saja tersungging dengan indahnya.</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kata.devie.or.id/2009/10/senyum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rasa dalam kata [3]</title>
		<link>http://kata.devie.or.id/2009/01/rasa-dalam-kata-3/</link>
		<comments>http://kata.devie.or.id/2009/01/rasa-dalam-kata-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 12:22:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devie</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa liris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kata.devie.or.id/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;
setelah perkenalan singkat yang dipromotori managerku, maka, resmi pula hari  pertamaku sebagai orang kantoran.
kubikal yang kuperolaeh tidak terlalu mengecewakan, bahkan bisa dibilang  cukup menyenangkan. berada di koridor barat, jika kubalikkan badan dan menembus  kaca jendela, tampak halaman belakang SMA 3 kota R, halaman yang disulap menjadi  lapangan basket. kubikal transparan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8230;</p>
<p>setelah perkenalan singkat yang dipromotori managerku, maka, resmi pula hari  pertamaku sebagai orang kantoran.</p>
<p>kubikal yang kuperolaeh tidak terlalu mengecewakan, bahkan bisa dibilang  cukup menyenangkan. berada di koridor barat, jika kubalikkan badan dan menembus  kaca jendela, tampak halaman belakang SMA 3 kota R, halaman yang disulap menjadi  lapangan basket. kubikal transparan dengan sekat yang bahkan hanya sanggup  melindungi setengah LCD laptopku saat dibuka.</p>
<p>tak banyak yang kuingat di hari pertamaku, hanya Reni, sekretaris departemen  yang kubikalnya tepat berada di samping kananku yang sempat mengajakku  mengobrol, itupun tidak banyak, obrolan pertama mengenai amplop titipan HRD yang  berisi detail account email, intranet dan ID cardku. Roy, yang kubikalnya tepat  berhadapan denganku, bahkan baru bisa kueja namanya dengan benar saat kami  bertemu dalam rapat mingguan di hari Senin berikutnya, itu berarti 4 hari  setelah hari pertamaku.</p>
<p>sebelah kiriku ada kubikal kosong, meja kerja yang tak begitu luas itu penuh  dengan tumpukan dokumen. kertas-kertas yang nantinya menjadi bagian  keseharianku. di depan Reni, sebelah kiri Roy, kubikal kosong tanpa meja, ada  mesin fotokopi disana, serta laci-laci rendah yang berisi ATK. sebelah kanan Roy  adalah kubikal milik Hadi, di hari pertamaku dia tidak kelihatan, sedang di kota  S, di tempat salah satu client kami.</p>
<p>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kata.devie.or.id/2009/01/rasa-dalam-kata-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>hujan</title>
		<link>http://kata.devie.or.id/2009/01/hujan/</link>
		<comments>http://kata.devie.or.id/2009/01/hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 12:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devie</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa liris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kata.devie.or.id/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[matari tampak lelah
sudah beberapa bulan ini dia terus-terusan merenggang  panas
sendiri, tanpa canda tawa awan dan hujan
menjadi satu-satunya  penguasa langit siang
hujan baru saja mengenakan mantelnya
titik-titik air sudah pula  disiapkannya
tak lupa disapanya sang awan dari jauh
”tolong bantu  aku, kau halangi sebentar matari”
awan baru saja sampai dari perjalanan panjangnya diatas pasifik
ada  sedikit rindu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>matari tampak lelah<br />
sudah beberapa bulan ini dia terus-terusan merenggang  panas<br />
sendiri, tanpa canda tawa awan dan hujan<br />
menjadi satu-satunya  penguasa langit siang</p>
<p>hujan baru saja mengenakan mantelnya<br />
titik-titik air sudah pula  disiapkannya<br />
tak lupa disapanya sang awan dari jauh<br />
<em>”tolong bantu  aku, kau halangi sebentar matari”</em></p>
<p>awan baru saja sampai dari perjalanan panjangnya diatas pasifik<br />
ada  sedikit rindu yang terpendam<br />
kepada hujan yang lama tak ditemani<br />
kepada  matari yang lama tak digoda</p>
<p>matari tersenyum<br />
mendengar sapa hujan kepada awan<br />
dia tahu, sebentar  lagi dia bisa sedikit beristirahat<br />
memberi kesempatan hujan dan awan</p>
<p>masa, pelan-pelan berubah</p>
<p>hujan marah<br />
awan tak juga datang seperti pintanya<br />
matanya  membelalak, menatap sadis kepada angin yang tersenyum bahagia<br />
padahal, mantel  dan titik-titik air sudah terlalu menganggu pundaknya</p>
<p>angin begitu ceria<br />
rindunya kepada awan terpenuhi<br />
puas hatinya menggoda  awan<br />
bercengkerama kesana kemari</p>
<p><em>&#8220;pa, kok tidak jadi hujan? padahal tadi awannya sudah gelap, petir juga  sudah terdengar nyaring?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;sebentar nak, mungkin angin sedang melepas rindunya dengan sang awan atau  mungkin matari masih merasa sanggup merenggang panas, bersabarlah, hujan pasti  datang, pasti, dia sudah berjanji padamu kemarin.&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kata.devie.or.id/2009/01/hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ulduz</title>
		<link>http://kata.devie.or.id/2009/01/ulduz/</link>
		<comments>http://kata.devie.or.id/2009/01/ulduz/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 11:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devie</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa liris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kata.devie.or.id/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[setengah purnama nyaris terlewat mata
seperti kata yang pernah kau eja, kuredam  rindu dendam
pada malam
pada bintang
yang nyata lebih setia
&#8230;
aku merindu, pada rima bait katamu
pada sajak yang membuatku menduakan ulduz
PS: ulduz adalah kata lain untuk bintang dalam bahasa Azeri, bahasa resmi untuk Azerbaijan
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>setengah purnama nyaris terlewat mata<br />
seperti kata yang pernah kau eja, kuredam  rindu dendam</p>
<p>pada malam<br />
pada bintang<br />
yang nyata lebih setia</p>
<p>&#8230;</p>
<p>aku merindu, pada rima bait katamu<br />
pada sajak yang membuatku menduakan <a title="Ulduz" href="http://az.wikipedia.org/wiki/Ulduz"><em>ulduz</em></a></p></blockquote>
<p><em><strong>PS:</strong> </em><em><a title="Ulduz" href="http://az.wikipedia.org/wiki/Ulduz"><em>ulduz</em></a> adalah kata lain untuk bintang dalam bahasa <a title="Azeri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Azeri">Azeri</a>, bahasa resmi untuk <a title="Azerbaijan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Azerbaijan">Azerbaijan</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kata.devie.or.id/2009/01/ulduz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rasa dalam kata [2]</title>
		<link>http://kata.devie.or.id/2009/01/rasa-dalam-kata-2/</link>
		<comments>http://kata.devie.or.id/2009/01/rasa-dalam-kata-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 10:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devie</dc:creator>
				<category><![CDATA[prosa liris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kata.devie.or.id/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[&#8212;
“Bu, aku berangkat sekarang, aku tunggu di tempat biasa”,  bunyi  pesan-singkatku ke Ibu yang sedang latihan senam di sanggar senam dekat taman  kota, kulirik jam meja di samping telepon rumah, 16.45, masih cukup waktu untuk  mencapai tempatku menunggu Ibu. kuraih ranselku, kumasukkan “Ronggeng Dukuh  Paruk”, novel lama yang harus kubuat esainya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8212;</p>
<p>“Bu, aku berangkat sekarang, aku tunggu di tempat biasa”,  bunyi  pesan-singkatku ke Ibu yang sedang latihan senam di sanggar senam dekat taman  kota, kulirik jam meja di samping telepon rumah, 16.45, masih cukup waktu untuk  mencapai tempatku menunggu Ibu. kuraih ranselku, kumasukkan “Ronggeng Dukuh  Paruk”, novel lama yang harus kubuat esainya sebagai tugas dari Bu Murni, dosen  favoritku, meskipun sudah pernah menyelesaikannya, aku merasa perlu membaca  ulang untuk menyegarkan.</p>
<p>halte tampak sepi, cuma ada laki-laki muda yang tampaknya baru saja pulang  dari tempat kerjanya, wajahnya tampak kusut, mungkin ada pekerjaan yang tidak  selesai seperti yang diharapkannya. bus yang kutunggu datang, kusebar  pandanganku ke seluruh penjuru bus, ada tempat kosong disamping gadis SMA yang  masih berseragam abu-abu putih, tampak asyik dengan handphonenya.</p>
<p>“permisi”, ucapku basa basi sekaligus memintanya memindahkan ranselnya, dia  mendongak kemudian tersenyum manis, menganguk, menggeser ranselnya yang menutupi  bangku kosong yang akan kududuki.</p>
<p>“baru pulang ya?”</p>
<p>“eh, iya, ada ekskul tadi”, jawabnya sedikit tergagap.</p>
<p>“saya dulu juga SMA 3 lho”, ucapku spontan begitu membaca badge di lengan  kirinya, badge yang dulu juga sempat kupakai, 3 tahun yang lalu.</p>
<p>dia menatapku, seperti menaksir usiaku “lulus tahun berapa mbak?”</p>
<p>“2005, 3 tahun yang lalu.”</p>
<p>“kenal dengan Pak Kris dong?”, tanyanya antusias, dan saat itu juga bus mulai  berjalan lagi, setelah berhenti sekitar 3 menit, ketentuan untuk halte kecil  seperti ini.</p>
<p>“guru Bahasa kelas 2 itu?”</p>
<p>“sekarang mengajar kelas 1 mbak, dan juga mengasuh ekskul sastra, ini aku  baru pulang dari ekskulnya”, senyum manis kembali tersungging.</p>
<p>“aku kira masih ngajar kelas 2”, obrolan kami terhenti, ada telpon yang harus  diangkatnya.</p>
<p>“eh mbak, permisi, aku harus turun halte depan. kapan-kapan ngobrol lagi,  kalau ketemu”, sepertinya dia sudah ditunggu temannya yang baru saja  menelponnya.</p>
<p>“hati-hati ya”, sambil menggeser kakiku untuk memberinya jalan keluar.</p>
<p>bus kembali berjalan, kukeluarkan novelku, kubaca kembali saat Srintil menunggu  lelaki pertama yang akan membelinya.</p>
<p>bus berhenti di halte taman kota, tepat disisi utara taman. pohon-pohon  tampak basah, baru saja hujan sepertinya disini. kuhirup udara sore yang sedikit  basah.</p>
<p>&#8212;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kata.devie.or.id/2009/01/rasa-dalam-kata-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
