rasa dalam kata [3]

January 27th, 2009

setelah perkenalan singkat yang dipromotori managerku, maka, resmi pula hari pertamaku sebagai orang kantoran.

kubikal yang kuperolaeh tidak terlalu mengecewakan, bahkan bisa dibilang cukup menyenangkan. berada di koridor barat, jika kubalikkan badan dan menembus kaca jendela, tampak halaman belakang SMA 3 kota R, halaman yang disulap menjadi lapangan basket. kubikal transparan dengan sekat yang bahkan hanya sanggup melindungi setengah LCD laptopku saat dibuka.

tak banyak yang kuingat di hari pertamaku, hanya Reni, sekretaris departemen yang kubikalnya tepat berada di samping kananku yang sempat mengajakku mengobrol, itupun tidak banyak, obrolan pertama mengenai amplop titipan HRD yang berisi detail account email, intranet dan ID cardku. Roy, yang kubikalnya tepat berhadapan denganku, bahkan baru bisa kueja namanya dengan benar saat kami bertemu dalam rapat mingguan di hari Senin berikutnya, itu berarti 4 hari setelah hari pertamaku.

sebelah kiriku ada kubikal kosong, meja kerja yang tak begitu luas itu penuh dengan tumpukan dokumen. kertas-kertas yang nantinya menjadi bagian keseharianku. di depan Reni, sebelah kiri Roy, kubikal kosong tanpa meja, ada mesin fotokopi disana, serta laci-laci rendah yang berisi ATK. sebelah kanan Roy adalah kubikal milik Hadi, di hari pertamaku dia tidak kelihatan, sedang di kota S, di tempat salah satu client kami.


hujan

January 27th, 2009

matari tampak lelah
sudah beberapa bulan ini dia terus-terusan merenggang panas
sendiri, tanpa canda tawa awan dan hujan
menjadi satu-satunya penguasa langit siang

hujan baru saja mengenakan mantelnya
titik-titik air sudah pula disiapkannya
tak lupa disapanya sang awan dari jauh
”tolong bantu aku, kau halangi sebentar matari”

awan baru saja sampai dari perjalanan panjangnya diatas pasifik
ada sedikit rindu yang terpendam
kepada hujan yang lama tak ditemani
kepada matari yang lama tak digoda

matari tersenyum
mendengar sapa hujan kepada awan
dia tahu, sebentar lagi dia bisa sedikit beristirahat
memberi kesempatan hujan dan awan

masa, pelan-pelan berubah

hujan marah
awan tak juga datang seperti pintanya
matanya membelalak, menatap sadis kepada angin yang tersenyum bahagia
padahal, mantel dan titik-titik air sudah terlalu menganggu pundaknya

angin begitu ceria
rindunya kepada awan terpenuhi
puas hatinya menggoda awan
bercengkerama kesana kemari

“pa, kok tidak jadi hujan? padahal tadi awannya sudah gelap, petir juga sudah terdengar nyaring?”

“sebentar nak, mungkin angin sedang melepas rindunya dengan sang awan atau mungkin matari masih merasa sanggup merenggang panas, bersabarlah, hujan pasti datang, pasti, dia sudah berjanji padamu kemarin.”


ulduz

January 25th, 2009

setengah purnama nyaris terlewat mata
seperti kata yang pernah kau eja, kuredam rindu dendam

pada malam
pada bintang
yang nyata lebih setia

aku merindu, pada rima bait katamu
pada sajak yang membuatku menduakan ulduz

PS: ulduz adalah kata lain untuk bintang dalam bahasa Azeri, bahasa resmi untuk Azerbaijan


rasa dalam kata [2]

January 18th, 2009

“Bu, aku berangkat sekarang, aku tunggu di tempat biasa”,  bunyi pesan-singkatku ke Ibu yang sedang latihan senam di sanggar senam dekat taman kota, kulirik jam meja di samping telepon rumah, 16.45, masih cukup waktu untuk mencapai tempatku menunggu Ibu. kuraih ranselku, kumasukkan “Ronggeng Dukuh Paruk”, novel lama yang harus kubuat esainya sebagai tugas dari Bu Murni, dosen favoritku, meskipun sudah pernah menyelesaikannya, aku merasa perlu membaca ulang untuk menyegarkan.

halte tampak sepi, cuma ada laki-laki muda yang tampaknya baru saja pulang dari tempat kerjanya, wajahnya tampak kusut, mungkin ada pekerjaan yang tidak selesai seperti yang diharapkannya. bus yang kutunggu datang, kusebar pandanganku ke seluruh penjuru bus, ada tempat kosong disamping gadis SMA yang masih berseragam abu-abu putih, tampak asyik dengan handphonenya.

“permisi”, ucapku basa basi sekaligus memintanya memindahkan ranselnya, dia mendongak kemudian tersenyum manis, menganguk, menggeser ranselnya yang menutupi bangku kosong yang akan kududuki.

“baru pulang ya?”

“eh, iya, ada ekskul tadi”, jawabnya sedikit tergagap.

“saya dulu juga SMA 3 lho”, ucapku spontan begitu membaca badge di lengan kirinya, badge yang dulu juga sempat kupakai, 3 tahun yang lalu.

dia menatapku, seperti menaksir usiaku “lulus tahun berapa mbak?”

“2005, 3 tahun yang lalu.”

“kenal dengan Pak Kris dong?”, tanyanya antusias, dan saat itu juga bus mulai berjalan lagi, setelah berhenti sekitar 3 menit, ketentuan untuk halte kecil seperti ini.

“guru Bahasa kelas 2 itu?”

“sekarang mengajar kelas 1 mbak, dan juga mengasuh ekskul sastra, ini aku baru pulang dari ekskulnya”, senyum manis kembali tersungging.

“aku kira masih ngajar kelas 2”, obrolan kami terhenti, ada telpon yang harus diangkatnya.

“eh mbak, permisi, aku harus turun halte depan. kapan-kapan ngobrol lagi, kalau ketemu”, sepertinya dia sudah ditunggu temannya yang baru saja menelponnya.

“hati-hati ya”, sambil menggeser kakiku untuk memberinya jalan keluar.

bus kembali berjalan, kukeluarkan novelku, kubaca kembali saat Srintil menunggu lelaki pertama yang akan membelinya.

bus berhenti di halte taman kota, tepat disisi utara taman. pohon-pohon tampak basah, baru saja hujan sepertinya disini. kuhirup udara sore yang sedikit basah.