rasa dalam kata [1]

January 18th, 2009

sore ini, seperti sore-sore kemarin, kulangkahkan lagi kakiku ke taman kota, pelan-pelan kususuri jalanan yang sedikit basah, sisa hujan siang ini yang tak begitu deras, kutengadahkan sebentar kepalaku, tampak seperti baru dibersihkan, langit yang bening tanpa awan, kulirik jam tanganku, 17.15, pantas kalau sudah memerah, senja. kupercepat langkahku, tujuanku cuma satu, bangku taman di sisi barat, sisi yang menghadap jalan utama yang membelah kota.

keluar dari Sudirman, nama jalan tempatku bekerja berada, kubelokkan langkahku ke kiri, Letjend Sutoyo, jalan yang tepat di sisi selatan taman, pohon-pohon rindang di sepanjang sisi taman mulai terlihat, sedikit gelap. petang semakin menjadi. jalanan tak begitu ramai, seperti biasa, dan menjadi salah satu alasanku menyukai kota ini, sejak senja pertama yang kunikmati 3 tahun lalu. tidak seperti kota lain di negeriku, kota ini begitu nyaman dilalui dengan jalan kaki, trotoar luas yang rindang, jalanan bersih dan mulus, angkutan massal yang bersahabat, warga yang begitu ramah, dan akhirnya, mau tidak mau, aku harus jatuh cinta juga, pada kota ini, pada senjanya dan nantinya kepada dia, perempuan penunggu senja.


tak ada kata lagi

January 18th, 2009

“itu cuman cintanya anak kecil, cinta monyet”, begitu kau bilang kepadaku tentang tanggapan mamamu akan cerita-ceritamu, dan kaupun lantas tertawa renyah seperti menggodaku. sedang aku, hanya tersenyum kecut diujung telepon ini.

“kau tahu?”

“apa?”

“banyak hal yang sebenarnya ingin kubincangkan denganmu, tapi semuanya selalu hilang saat kau meneleponku”, begitu perlahan kau mengucap ini.

“coba kau tulis, akan kubaca jika kau mengijinkan.”

“ya, aku sudah menulisnya, selalu. tapi soal ijin itu? eh hhmmmmm, nanti dulu deh”, dan tawamu meledak lagi.

“dasar!!! kapan kau pulang?”

“belum tahu, banyak hal yang belum selesai. kangen banget ma rumah padahal”, ada desir kecewa yang kutangkap. ya, aku tahu, kau begitu sibuk disana.

dan tiba-tiba semuanya sunyi.

tak ada kata lagi.


berganti pahatan nama dipasir yang tak kekal

January 17th, 2009

sepi ini
sunyi ini
sendiri ini
hanya aku yang merasa
tak ada kau maupun dia
begitu juga mereka
semuanya hilang terbang
menyisakan luka dalam gelapnya kelam

aku tak sedang merajuk
tak juga menangis
semuanya nyata untukku
kau, dia, mereka
berganti pahatan nama dipasir yang tak kekal


maaf

January 17th, 2009

jalan ini
jalan yang pernah kulewati
waktu itu
saat matahari mulai malu menampakan wajanya
ketika titik demi titk air mulai jatuh dari langit
dan kau tersenyum malu dibalik tirai penutup jendela kamarmu

jalan ini
jalan yang selalu menemaniku
setiap saat
ketika hati ini merindu sejuknya embun
yang selalu hadir saat kerling manismu menyapa

jalan ini
jalan yang melukaiku
merobek setiap baris kenangan indahku
saat maaf itu harus kuucap kepadamu

maaf